Senin, 30 Juli 2012

BOOK REVIEW: THE EYES OF THE DRAGON

Cover Indonesia

Sinopsis :
Pada zaman dahulu kala, di Kerajaan Delain, Raja Roland dibunuh. Peter, sang pewaris takhta, dituduh sebagai pelakunya. Peter pun dipenjara di puncak menara, dan adiknya, Thomas, diangkat menjadi Raja. Namun Thomas berada di bawah pengaruh Flagg, si penyihir jahat yang selalu berkelana menebar bencana, dari zaman ke zaman. Maka Peter dan sahabat-sahabat setianya mesti menyusun rencana untuk merebut kembali singgasana.

Review-an Sendiri :

Sebenernya, theme-wise buku ini ga terlalu spesial. Background cerita kerajaan-kerajaan zaman dulu, ceritanya kurang lebih ada Raja yang punya 2 anak, yang satu perfect yang satu lagi engga, ada penyihir jahat yang nge set-up pembunuhan buat raja, pangeran yang perfect di fitnah adiknya jadi raja dst dst dst...

Tapi satu yang bikin The Eyes of The Dragon spesial di mata Saya, yaitu cara penceritaannya. Diceritainnya dari sudut pandang orang ketiga aka narator yang berperan sebagai Pendongeng. Lucunya narator disini bukan narator yang tau segala hal yang terjadi tapi hanya narator yang ga tau segalanya. Di beberapa bagian malah si Pendongeng ga ngejelasin apa-apa ._. Cara penceritaan di buku ini juga casual banget, kesannya emang kita lagi ngumpul di ruang keluarga, dengerin dongeng dari bapak/kakek kita (walaupun Saya ga pernah punya pengalaman kaya gitu, sama Bapak aja ga pernah apalagi Kakek ._.)

Saya suka banget dengan tokoh-tokoh yang diciptain sama pak King disini, ga seperti kebanyakan cerita yang fokus sama 1 tokoh utama, penulis ngebag-bagi setiap tokoh masing-masing ceritanya sendiri. Walaupun tokoh utama/protagonist nya disini Peter, tapi kita masih bisa ngeliat kalau tokoh-tokoh yang lain juga ikut andil dalam novel ini. Apalagi ada tokoh yang Saya kira Cuma ‘tokoh numpang lewat’ eh ternyata punya peranan penting disini.


Saya malah ngerasain empati yang sangat-sangat buat Thomas, dia masih kecil dan sudah merasa insecure tentang dirinya sendiri. Juga dengan tokoh-tokoh lainnya, penggambaran suasana hati para tokoh juga jelas bikin yang baca ikut ngerasain apa sih yang mereka alamin.

Awalnya Saya sempet sebel karena si pendongeng menceritakan background setiap tokohnya satu persatu, dan saat nyentuh ke masalah eh dioper lagi ke background tokoh lainnya, tapi setelah Saya masuk ke masalah Saya malah bersyukur kalau Pendongen menceritakan dulu semua background tersebut jadinya Saya tau maksud dari semua yang diceritakan apa hahaha

The Eyes of The Dragon mungkin cerita fantasy klasik, tapi dengan sentuhan ajaib Stephen King, buku ini menjadi sangat padet, complex dan menengangkan sekali. Ga ada waktu buat kita bernafas deh. Walaupun klaua boleh ngasih spoiler, endingnya (buat Saya) sedikit lucu karna Pendongeng ngegantungan cerita disitu aja, bikin kita mikir sendiri :D

RMRPS

0 komentar:

Posting Komentar

 
 
Copyright © RMR Putra Suranegara
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com